“Dinda.. Dinda.. bangun !”
“......”
“Din, ayo bangun. Pak Jaya udah nungguin kamu tuh
daritadi. Buruan mandi.”
“Iya, Ma..”
Sambil menguap Dinda langsung menyambar handuknya lalu
menutup pintu kamar mandi dengan keras. Tak sampai 5 menit, Dinda pun selesai
dan segera memakai seragam sekolahnya. Dengan terburu-buru juga Dinda langsung
turun keruang makan dan menyambar sepotong roti coklat buatan mama dan
memakannya tanpa sisa. Setelah itu, Dinda langsung berpamitan kepada mama dan
papanya. Secepat kilat, Dinda menuju ketempat pak Jaya menunggu. Pak jaya
adalah tukang becak langganan mamanya Dinda yang kini kira-kira berumur 50
tahunan. Setiap hari Pak Jaya mengantar-jemput Dinda beserta kedua temannya
Meli dan Nisa. Sudah lebih dari 30 menit Pak Jaya menunggu Dinda dengan sabar.
“Bapak, maaf telat. Ayo pak kita jemput Meli dan
Nisa.” Buru Dinda.
“Iya, neng.”
Sambil menggowes becaknya,
Pak Jaya menebar senyum kecil tatkala ia teringat dengan perilaku Dinda. Ia selalu
memaklumi Dinda yang hobinya bangun siang, kebanyakan jajan, dan kebanyakan
nanya. Namanya juga anak kecil, masih umur 4 tahun. Karena hobby dinda memang
bangun siang, maka dari itu Pak Jaya sering datang lebih pagi dari jam bangun
Dinda. Walau jam masuk sekolah pukul 07.30, tetapi Pak Jaya menyempatkan datang
pukul 06.00. pekerjaan Pak Jaya memang tidaklah mudah, selain ia harus
antar-jemput Dinda, dia juga harus menyusul Meli dan Nisa di tempat yang
berlainan. Jarak rumah mereka satu sama lain pun lumayan jauh. Dari pekerjaan
ini, Pak Jaya selalu bersyukur karena masih mendapatkan selembar uang 25 ribu rupiah
dari orangtua setiap anak. Kadang juga di hari raya Pak Jaya sering mendapatkan
bonus dari orangtua anak-anak itu. Demi menghidupi 2 orang anaknya, Pak Jaya
rela mengorbankan masa tuanya dengan menggowes becak.
Setelah menjemput Meli
dirumahnya, kami langsung menuju kerumah Nisa. Rumah Nisa memang tidak jauh
dari TK Islam Al-Muzzammil sekolah kami, namun orangtua Nisa lebih memilih jasa
tukang becak daripada mengantar Nisa jalan kaki setiap hari.
Sepanjang perjalanan memang tidak jarang kami
bercerita apapun yang kami mau, dan tak jarang pula Pak Jaya ikut didalamnya.
“Din, Nis, kayaknya minggu depan aku mau pindah
sekolah deh”.
“Kenapa Mel ?”. Tanya Nisa sedih.
“Aku mau ikut papaku tugas keluar daerah”.
“Yaaah, kita berarti tinggal berdua dong”. Jawabku.
“Maaf ya, kapan-kapan aku dateng kita main bareng
lagi deh. Oiya, 2 hari lagi kan ulang tahun aku, kalian dateng ya ! jangan
lupa”. Seru Meli dengan riang.
“Oke, jangan lupa makanannya yang buanyaaak banget
ya”. Jawabku dan Nisa hampir berbarengan.
“Bapak jangan lupa di undang ya Neng Meli”. Timpa
Pak Jaya usil.
“Rebes Bos !!”. sambil mengacungkan kedua jempolnya
ke udara.
Disaat
jam istirahat. Kira-kira pukul 10.00 WIB. Meli mulai membagikan surat undangan
ulang tahunnya yang ke-5 kepada teman-teman sekolah kami beserta guru-guru.
Hampir 100 undangan lebih telah Meli bagikan, termasuk juga padaku dan Nisa.
Memang tidak aneh kalau dia mengundang orang banyak. Dia kan anak seorang
pengusaha. Ayah dan ibunya memiliki usaha masing-masing yang sangat berkembang
pesat. Tapi dia tetap tidak memilih-milih teman dalam bergaul.
Minggu,
21 Februari 1999. Halaman belakang rumah Meli yang cukup hijau dan luas hampir
penuh karena tamu undangan yang sebagian besar didampingi orang tua mereka
beserta guru-guru sekolahku dan juga saudara-saudara Meli yang tidak akan
ketinggalan. Ini adalah pesta yang hebat. Makanannya hebat. Acaranya hebat.
Tamunya pun hebat. Dan tak ketinggalan, si Putri yang berulang tahun pun
kelihatan sangat hebat dibalik gaun merah muda itu. Tetapi ini hari terakhirku
bertemu Meli.
Aku dan Nisa didampingi
mama kami masing-masing. Setelah berpamitan kepada mama-mama kami, aku dan Nisa
berlari sambil membawa kado dan berlari ke arah Meli.
“Meliiiii, selamat ulang tahun”. Teriak kami berdua
dari kejauhan.
“Hai, makasih yaa”. Meli balas berlari mengahampiri
kami.
“Ini dari Aku dan Nisa”. Sambil menyerahkan kado.
“Terima kasih ya. Ayo kita kesana, banyak makanan
loh”.
“Asyiiiik, ayo !”.
Dan pesta itu berakhir pukul 4 sore. Yang tersisa
disana hanya tinggal kami bertiga yang masih asik berlari-larian. Tapi, karena
sudah terlalu sore mama mulai membawa kami pulang. Tinggalah Meli sendiri,
terpaku didepan gerbang rumahnya yang besar sambil menatap punggung kami sampai
menjauh. Pergi.
Itulah
saat terakhirku bertemu dengannya. Walau sekarang tinggal aku dan Nisa di becak
ini, tapi kita tetap seceria dulu. Seperti saat masih ada Meli. Dan, 1 bulan
setelah kepindahan Meli keluar daerah, Nisa menyusul. Ia juga ikut pindah
kesekolah yang tidak terlalu jauh dari rumahnya dan sekolah lamanya ini.
Sekarang, tinggal aku sendiri. Bersama Pak Jaya tentunya. Kini baru kurasa
ternyata, setiap harinya mulai terasa berbeda.
Rutinitas
Dinda yang selalu bangun kesiangan memang tidak akan pernah berubah. Yang
selalu membuat Pak Jaya tersenyum oleh perilaku Dinda yang satu itu. Namun
kepindahan Meli dan Nisa lah yang membuat hari-hari Dinda mulai berubah. tak
ada lagi canda tawa dan cerita-cerita dalam becak milik Pak Jaya. Yang tersisa
hanyalah sebuah becak kosong tempat kenangan kita tersimpan sampai saat ini.
Dan disaat kenaikan ke TK besar aku juga menyusul mereka. Aku pindah ke tempat
dimana Nisa sekolah sekarang. Namun, sekarang sudah tak sama lagi. Semua berubah
sangat drastis setelah Pak Jaya pensiun sebagai pengantar-jemput.
Aku
tak tau apa yang terjadi setelah ini dengan Meli. Hanya kabar terakhir yang
kudengar dari Pak Jaya adalah bahwa ia sudah tak menarik becak lagi karena ia
sering sakit-sakitan. Aku sangat prihatin mendegarnya. Setelah lulus dan masuk
ke SD aku dan Nisa memasuki sekolah yang sama lagi. Dan selama 6 tahun kami
juga tak pernah mendapat kabar dari mereka. kami juga sudah tidak pernah lagi
mengunjungi rumah Pak Jaya.
Setelah lulus dari SD
itu, aku melanjutkan ke SMP negeri dan Nisa pun begitu. Namun kami tidak satu
sekolah kali ini. Sekolah kami malah saling bertolak belakang. Waktu-waktu itu
kulewati tanpa mengingat secuilpun kenangan tentang mereka, termasuk Nisa.
Mungkin karena faktor pelajaran yang semakin tahun semakin sulit dan menumpuk.
Apalagi sekarang adalah musim kelulusan.
LULUS. Sebuah kata yang
kubaca didalam kertas yang dibagikan sore ini. Setelah melewati masa-masa
menegangkan dan menguras otak, ini adalah awal dari setiap babak baru yang
harus kulalui dan ku perjuangkan. Kini, Dinda yang kecil dan cerewet tanpa
disadari kini telah berubah menjadi Dinda dewasa berumur 17 tahun yang sedikit
tertutup. Setelah lama waktu yang Dinda jalani, seketika ia mengingat kembali
saat-saat itu. Tanpa disadari Dinda tersenyum kecil dan matanya mulai
berkaca-kaca. Ia rindu. Ya, dia sangat rindu.
Setelah 12 tahun
berlalu. Tidak pernah dia mendengar kabar dari Meli dan Nisa sampai saat ini.
Entah mereka dimana dan sekarang bersekolah dimanapun dia tidak tau. Nah, tentu
saja yang tidak akan pernah dia lupakan. Pak Jaya. Dinda rindu sekali padanya.
Ia adalah sebagian orang yang sangat berjasa dalam hidup Dinda. Yang pernah
menulis cerita akan dirinya didalam hati Dinda, yang takkan pernah mungkin dilupa.
Nisa dan Meli pun begitu. Bahkan cerita pertemuan dan perpisahan mereka adalah
salah satu sejarah hidup Dinda yang terindah.
Dan itu karena setitik
noda yang kalian torehkan dihidupku. Noda yang akan selalu menyimpan kenangan
kita selamanya. Dan tentu saja itu karena.. kalian.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar