Suatu
waktu, aku mulai memikirkan tentang dia. Tentang seseorang yang namanya berada
dalam lembar yang sama di lauh mahfuzh. Sempat berfikir ; siapa namanya ? apa
pekerjaannya ? berapa umurnya ? bagaimana perangainya ? seperti apa parasnya ?
setinggi apa imannya ? dan pertanyaan-pertanyaan singkat lainnya.
Astaghfirullahaladziim..
Tak
kuasa aku beristighfar setelahnya. Memohon ampunan atas ketidaksabaranku
terhadap takdir yang akan Dia berikan. Juga mempertanyakan takdir yang telah
Dia tetapkan bagi setiap hamba-Nya.
Kini..
do’a, usaha. Ikhtiar dan tawakkal lah yang harus aku perbuat.
Dan
ini setitip catatan hatiku untuknya..
Wahai
kekasih Allah... tatkala kau merindukan sebuah kasih sayang, datanglah
kepada-Nya.
Sungguh,
ketika itu pula kau akan bersamaku dalam genggaman cinta-Nya.
Wahai
kekasih... ketika kau menemukan sebuah kesulitan dan cobaan, kembalilah dan
memohonlah kepada-Nya.
Sunggguh,
saat itu aku pun sedang berdo’a memohon kemudahan untuk kita.
Wahai
pemuda penghuni syurga... ketika kebahagiaan datang dan tawa sukacita tengah
menyelimuti hatimu, bersykurlah dan
panjatkan hamdalah keatas-Nya.
Sungguh,
sebelum itu aku telah meminta kebahagiaan untukmu. Untuk kita.
Jikalau
umurku tak sampai untuk bertemu denganmu, kenanglah aku wahai kekasih. Tataplah
wajahku dalam redupan mata dan nikmatnya muhassabah. Do’akan aku dalam setiap
waktu kau bertemu dengan sang pencipta. Rindui aku dalam dzikirmu keatas-Nya.
Sesungguhnya, kau akan merasakan adanya aku ketika kau mengingat Tuhanmu. Allah
SWT.

