Sabtu, 01 September 2012

Pupus

Pupus


Namaku adalah King. Diriku tak sebesar namaku yang berarti ‘Raja’. Tubuhku abnormal. Tak seperti ukuran kebanyakan orang. Aku terlahir prematur dengan tubuh yang kecil dan kurus. Banyak orang tak mau berteman denganku.
Usiaku sekarang 18 tahun. Tetapi aku masih duduk di bangku kelas 10 atau kelas 1 MA ( Madrasah Aliyah) swasta di pinggiran kota yang amat luas dan mayoritasnya orang-orang berduit, yaitu Jakarta. Banyak orang-orang merantau ke kota ini hanya bermodal mimpi, yang pada akhirnya, jika tidak sukses ataupun mendapat kerja layak ya jadi gembel jalanan atau PSK atau mungkin pekerjaan yang tak layak lainnya. Lain kata, jika dia sukses di kota besar ini.
Aku dapat sekolah karena seorang dermawan yang mau menyekolahkanku, pamanlah orangnya. Ia juga mengizinkan aku tinggal dirumahnya sebagai anak angkat. Dia tak mempunyai seorang anak-pun, istrinya sudah meninggal beberapa tahun lalu, namun ia termasuk orang berduit di sekitar rumahku. Walau seperti itu, namun ia tak memiliki sifat yang sombong. Ia manyekolahkan aku di sekolah berwawasan islam lantaran ia ingin aku menjadi orang yang benar di kemudian hari. Dan membahagiakan kedua orangtuaku yang kini telah berada di sisi-Nya.
Saat aku selesai membantu paman berkebun. Ia datang. Ada saja orang seperti dia di dunia ini. Aneh dan ceria. Ia selalu mengikutiku kemana-pun aku pergi. Tapi mengapa hanya aku yg ia dekati ? apa tak ada orang lain selain diriku ? Terkadang ia mengikutiku sampai ke sekolah. Terkadang pula dia ikut masuk kedalam rumah paman. Itu membuatku tidak enak terhadap semua orang di rumah paman, dan juga membuatku jengkel. Sudah seminggu ia mengikutiku. Ia selalu bicara segala hal di dekatku. Walau selalu ku hiraukan, namun selalu saja ia berbicara panjang lebar. Tapi hampir setiap hari ia bersamaku, mengikuti seperti bayangan. Dan di mulai dari saat inilah kehidupanku mulai berubah.
Aku sangat membencinya. Sangat sebal padanya. Tertawa dan bicara sendiri di dekatku. Aneh. tapi walau tak pernah ku anggap, ia selalu ceria.
“Hay, namamu siapa ?” ujarnya kepadaku.
“...”
“Hay, namamu siapa ?” ucapnya yang kedua kali.
“...”
“Yaudah”
“Huuuuh, sialan” ucapku dalam hati.
Ini kali pertama ia bertanya padaku. Biasanya, ia hanya sekedar bercerita akan khayalan-khayalan dan imajinasinya. Kadang aku juga bingung, kenapa dia suka mengikutiku ? kenapa bukan paman saja, atau orang tuanya ?. aneh. Ia pernah berkata : “Aku pingin banget punya sahabat sepertimu”. Itu membuatku tersentuh beberapa waktu dan mencoba menerka apa yang di maksudnya itu. Tapi sudahlah, itu hanya bualannya saja.
            Sudah sebulan ia mengikuti dan menghantuiku. Membuatku jengkel dan kesal. Ia membuatku tak konsentrasi membantu paman. Memang, paman sudah lama mengetahui kalau gadis itu selalu mengikutiku kemanapun. Jadi paman selalu membiarkannya kedalam rumahnya. Tapi apa hubungannya dengan paman ? Setelah ku pandang-pandang ternyata ia terlihat seperti anak orang berduit. Tapi kemana orangtua-nya ? Tak pernahkah memikirkan nasib anak mereka ini berkeliaran di dunia luas ? sepertinya ia tak pernah di urus oleh orang tuanya. Suatu ketika, dia mengikutiku sampai kerumah paman. Kurasa dia sedang asyik dengan bonekanya itu, jadi kubiarkan saja dan tak ku awasi. Ketika aku sedang memindahkan bunga-bunga milik paman,
“Lalalalala... Berry ayo kejar aku”. serunya kepada boneka beruang lusuh tercintanya yang selalu ia bawa kemanapun ia pergi.
Bruuk ...... creek ..
“Oh,.. Tidaaakk ...!!!” aku berteriak sambil menghampiri gadis itu, dan .... prakkk !! aku reflek, tanpa sengaja ku lontarkan tepat di wajahnya yang pucat pasi.
“Hiks,.. Hiks,.. jahat ...”. ia menangis dan langsung berlari keluar dari rumah paman.
“Oh, tidak. Itu adalah pot bunga paman yang paling mahal. Katanya lebih mahal dari gaji bibi selama 3 tahun. Bagaimana aku harus menggantinya ??” dengan nada menyesal.
“Ada apa ini ??”. sergah paman.
“I.. itu .. ituu .. pot..!!”. jawabku dengan terbata-bata.
“Pot apa ??”. tanya paman dengan nada sebar.
“Pot itu, yang paman ceritakan lebih mahal dari gaji bibi selama 3 tahun”.
“Ya ampun ... sebenarnya ...”
“Iya, paman aku minta maaf” aku langsung memotong omongan paman.
“Ya ampun, paman waktu itu hanya bercanda. Itu supaya kau berhati-hati nak”.
“Ta .. Tapi .. “.
“Sudahlah nak, lupakan kejadian hari ini. Sekarang pulanglah ! sudah sore. Mungkin kau butuh istirahat. Paman tau kau tak pernah melakukan kesalahan sama sekali nak”. Kata paman sabar.
“Baik paman”. Aku langsung beranjak dari rumah paman. “Huft, aku mau tidur ..”
            Minggu, 1 Mei 2011 pukul 09.01 WIB. Pagi ini amat sangat cerah dan menyenangkan buatku. Karena ....
“Akhirnya sehari tanpa si pengacau itu”. Kataku dengan lega.
Sesaat aku mulai tenang dan damai. Tapi lama-kelamaan ... Sepi, sunyi, dan bersalah.. Di keseharianku biasanya dia yang selalu menemani, menghibur, dan membuatku jengkel. Itulah yang membuatku merindukannya. Seorang yang betah ada di dekatku, seorang yang terbuka dan tegar (kurasa). Kini ia tak ada. Aku sangat merasa bersalah kepadanya. Sekalinya aku bicara padanya, kata-kata terlaknat itu yang keluar dari bibirku. Aku tak bisa tenang jika seperti ini.
“Baiklah, besok aku akan minta maaf padanya. HARUS”.
            Keesokan harinya aku ingat bahwa aku tak pernah bertanya dimana rumahnya, bahkan namanya-pun sampai sekarang tak pernah ku tahu. Nama saja tak tau, apalagi rumahnya dimana. Tak pernah ku hiraukan dia. Bahkan bicara saja tak pernah. Sampai fajar menyingsing, pencarian belum barakhir.
            Pencarian hari kedua  : aku bertanya kepada semua orang di dekat rumahku, tak ada yang tau. Bertanya kepada orang-orang pasar (karena biasanya ia mengikutiku sampai dipasar dekat rumah), tak ada yang tau. Dan pencarian dihari kedua ini masih NIHIL.
“Aku tak tenang jika harus seperti ini terus. Aku tak tenang jika melakukan kesalahan terhadap orang lain. Aku tak tenang jika belum mengucap maaf padanya. Aku tak tenang jika ... “ aku tak mampu lagi meneruskan kata-kata ini. Aku tak dapat menerima kenyataan bahwa aku .. huft.
Pencarian hari ketiga, masih bertanya-tanya kepada warga sekitar tentang ‘seorang gadis berciri-ciri seperti :
Tinggi              : kira-kira 150 cm.
Usia                 : kira-kira 16 tahun.
Rambutnya bergelombang dan sebahu. Membawa boneka beruang lusuh. Dan sering memakai baju berwarna kuning (itu kebiasaannya ketika denganku).
Tapi, tetap saja tak ada yang tau dimana. Aku makin merasa bersalah. Dan di hari ini, hasilnya masih NOL BESAR.
“Kemana sih kamu ?? aku nggak bisa lagi nahan perasaan ini. Aku harus jujur dan ngomong langsung ke kamu. Aku rasa perasaan ini udah lama aku rasa, tapi aku baru sadar dan mengerti sekarang. Hal ini baru aku rasain sekarang. Kamulah yang pertama di hidupku. Kamu yang ...
            Sudah 2 bulan aku mencari dan terus mencari. Aku ingin meminta maaf sekaligus jujur kepadanya. Bahwa ini adalah rasa cinta si buruk rupa terhadap sang putri. Aku udah yakin dan percaya sama perasaan ini. Tapi, kamu dimana ??
Aku berjalan menyusuri indahnya siang oleh kehampaan dan kesunyian, serta perasaan bersalah dan belenggu yang mendalam. Seketika kulihat sesosok cahaya dalam khayalan dan imajinasiku dan menunutun ke sebuah tempat yang indah. Tapi kurasa itu hanyalah bayang-bayang fatamorgana semata. Tak dapat dirasakan, apalagi dijalani. Namun, seketika imajinasiku sirna dan hilang segera. Ternyata khayalanku itu adalah kenyataan. Bayang cahaya itu menuntunku ke sebuah rumah yang amat sangat indah dan damai. Tak pernah kurasa bahkan kulihat. Rumah paman saja tidak se-nyaman dan se-damai ini. Aku tepat berada di depan gerbang rumah idaman itu. Namun, sepertinya rumah nan indah itu sedang dilanda kesedihan dan cobaan dari-Nya. Aku melihat bendera kuning sedang di terpa angin sepoi-sepoi di depan gerbang dan jalan-jalan sekitar rumah itu. Banyak pelayat datang kesana. Penasaran melanda hati. Aku memberanikan diri untuk memasuki rumah itu, dan mengirimkan sedikit do’a untuk yang telah tiada.
            Aku melangkah melewati pintu rumah itu, ku pandangi semua manusia yang sedang berkabung. Di sebelah jenazah seorang gadis muda itu ada seorang wanita yang sedang meratapi jenazah gadis itu. Kurasa itu ibunya. Dan yang sedang berdiri menyendiri dari kerumunan orang adalah ayahnya mungkin. Tanpa mengucap salam aku masuk dan langsung duduk di sebelah jenazah itu. Kulihat seseorang yang kurasa aku mengenalnya.
“Hah, paman ?? Sedang apa dia disini ??. hatiku berkata. Paman .. paman .. “. Aku memanggil paman dengan suara berbisik.
“Hah, King. Sedang apa kau disini ??”. ia menjawab dengan nada sepertinya ia tak ingin aku mengetahui hal ini.
“Aku tak tau kenapa aku bisa sampai disini. Dan paman sedang apa disini ??”.
Tapi paman tak menjawab pertanyaanku sepatah kata-pun. Hal itu membuatku penasaran. Tapi rasa penasaran itu hilang dengan seketika. Yang ku inginkan hanya dia. Si pengacau hatiku. Yang terakhir untukku. Seketika pula aku ingat dengan tujuanku, mendo’a-kan orang yang tiada itu. Dan kubuka kain tipis yang menutupi wajah orang tiada itu, lalu ...
Deg .. Deg .. Deg ..
Berakhir sudah pencarianku selama ini. Jawabannya sudah ada di depan mata. Semua telah jelas. Terkuak cerita indah tentang ia yang tak pernah ada. Aku yakin kalian semua sudah tau apa yang akan terjadi. Ya, memang benar. Dia yang pertama di hati dan hidupku-lah yang kini terbaring indah di balik kain tipis itu. Kini kami telah bertemu kembali. Wajahnya yang anggun walau mengesalkan kini tenang dan damai. Takkan terganggu oleh suara maha besar apapun. Dirinya kini sudah menemukan yang terbaik. Berjalan di tengah-tengah cahaya kehidupan kekal nan bahagia. Kini aku hanya dapat berkata satu kata terakhir padanya, itu adalah “MAAF”. Tak pernah terbayangkan akhir ceritaku akan seperti ini. Hidup sepertinya tak pernah jera mengambil semua yang kucintai dan ku sayangi. Pertama ayah dan ibuku, kedua kebahagiaan, dan dia. Akankah ini jadi yang terakhir ? kepedihan terakhir dalam kisah pilu-ku ini ? biarlah ..
            Namanya adalah Denia, cantik dan indah, seperti sosoknya yang dulu sangat menjengkelkan. Ayahnya menuturkan bahwa Denia selama ini mengalami penyakit autis stadium awal, dan mengidap penyakit kanker otak. Kami sering mengajaknya ke tempat alternatif ‘valiatif’. Disana mereka mengajarkan akan makna kehidupan dan ketegaran untuk mencapai finish-nya yaitu kematian. Semua pengidap kanker di beri penyuluhan akan kekuatan hati dan diri. Mereka disana satu-persatu pergi. Tapi kepergian mereka meninggalkan memori yang mendalam. Mereka juga di persiapkan untuk menghadapi kematian mereka, dan Denia juga ... sampai disitulah aku mendengarkan penuturan orang tuanya. Aku tak sanggup lagi. Aku sudah menerima semuanya, dan kenyataannya saat ini adalah Denia sudah tak ada lagi untukku. Biarlah kisah ini ku jadikan pelajaran paling berharga untuk hidpuku kelak. Dan yang paling penting, Denia tak akan pernah hilang dari fikiran dan ingatanku, dan akan selalu tersimpan dalam lembaran hidupku. Selamanya..

1 komentar: