Pupus
Namaku adalah
King. Diriku tak sebesar namaku yang berarti ‘Raja’. Tubuhku abnormal. Tak
seperti ukuran kebanyakan orang. Aku terlahir prematur dengan
tubuh yang kecil dan kurus. Banyak orang tak mau berteman denganku.
Usiaku sekarang
18 tahun. Tetapi aku masih duduk di bangku kelas 10 atau kelas 1 MA ( Madrasah
Aliyah) swasta di pinggiran kota yang amat luas dan mayoritasnya orang-orang
berduit, yaitu Jakarta. Banyak orang-orang merantau ke kota ini hanya bermodal
mimpi, yang pada akhirnya, jika tidak sukses ataupun mendapat kerja layak ya
jadi gembel jalanan atau PSK atau mungkin pekerjaan yang tak layak lainnya.
Lain kata, jika dia sukses di kota besar ini.
Aku dapat
sekolah karena seorang dermawan yang mau menyekolahkanku,
pamanlah orangnya.
Ia juga mengizinkan aku tinggal dirumahnya sebagai anak angkat. Dia tak
mempunyai seorang anak-pun, istrinya sudah meninggal beberapa tahun lalu, namun
ia termasuk orang berduit di sekitar rumahku. Walau seperti itu, namun ia tak
memiliki sifat yang sombong. Ia manyekolahkan aku di sekolah berwawasan islam
lantaran ia ingin aku menjadi orang yang benar di kemudian hari. Dan
membahagiakan kedua orangtuaku yang kini telah berada di sisi-Nya.
Saat aku
selesai membantu paman berkebun. Ia datang. Ada saja orang seperti dia di
dunia ini. Aneh dan ceria. Ia selalu mengikutiku kemana-pun aku pergi. Tapi
mengapa hanya aku yg ia dekati ? apa tak ada orang lain selain diriku ? Terkadang
ia mengikutiku sampai ke sekolah. Terkadang pula dia ikut masuk kedalam rumah
paman. Itu membuatku tidak enak terhadap semua orang di rumah paman, dan juga
membuatku jengkel. Sudah seminggu ia mengikutiku. Ia selalu bicara segala hal
di dekatku. Walau selalu ku hiraukan, namun selalu saja ia berbicara panjang
lebar. Tapi hampir setiap hari ia bersamaku, mengikuti seperti bayangan. Dan di
mulai dari saat inilah kehidupanku mulai berubah.
Aku sangat
membencinya. Sangat sebal padanya. Tertawa dan bicara sendiri di dekatku. Aneh.
tapi walau tak pernah ku anggap, ia selalu ceria.
“Hay, namamu siapa ?”
ujarnya kepadaku.
“...”
“Hay, namamu siapa ?”
ucapnya yang kedua kali.
“...”
“Yaudah”
“Huuuuh, sialan” ucapku
dalam hati.
Ini kali pertama ia
bertanya padaku. Biasanya, ia hanya sekedar bercerita akan khayalan-khayalan
dan imajinasinya. Kadang aku juga bingung, kenapa dia suka mengikutiku ?
kenapa bukan paman saja, atau orang tuanya ?. aneh. Ia pernah berkata : “Aku pingin banget
punya sahabat sepertimu”. Itu membuatku tersentuh beberapa waktu
dan mencoba menerka apa yang di maksudnya itu. Tapi sudahlah, itu hanya
bualannya saja.
Sudah sebulan ia mengikuti dan menghantuiku. Membuatku
jengkel dan kesal. Ia membuatku tak konsentrasi membantu paman. Memang, paman
sudah lama mengetahui kalau gadis itu selalu mengikutiku kemanapun. Jadi paman
selalu membiarkannya kedalam rumahnya. Tapi apa hubungannya dengan paman ? Setelah
ku pandang-pandang ternyata ia terlihat seperti anak orang berduit. Tapi kemana
orangtua-nya ? Tak pernahkah memikirkan nasib anak mereka ini berkeliaran di
dunia luas ? sepertinya ia tak pernah di urus oleh orang tuanya. Suatu ketika,
dia mengikutiku sampai kerumah paman. Kurasa dia sedang asyik dengan bonekanya
itu, jadi kubiarkan saja dan tak ku awasi. Ketika aku sedang memindahkan
bunga-bunga milik paman,
“Lalalalala... Berry
ayo kejar aku”. serunya kepada boneka beruang lusuh tercintanya yang selalu ia
bawa kemanapun ia pergi.
Bruuk ...... creek ..
“Oh,.. Tidaaakk ...!!!”
aku berteriak sambil menghampiri gadis itu, dan .... prakkk !! aku reflek,
tanpa sengaja ku lontarkan tepat di wajahnya yang pucat pasi.
“Hiks,.. Hiks,.. jahat
...”. ia menangis dan langsung berlari keluar dari rumah paman.
“Oh, tidak. Itu adalah pot
bunga paman yang paling mahal. Katanya lebih mahal dari gaji bibi selama 3
tahun. Bagaimana aku harus menggantinya ??” dengan nada menyesal.
“Ada apa ini ??”. sergah
paman.
“I.. itu .. ituu ..
pot..!!”. jawabku dengan terbata-bata.
“Pot apa ??”. tanya paman
dengan nada sebar.
“Pot itu, yang paman
ceritakan lebih mahal dari gaji bibi selama 3 tahun”.
“Ya ampun ... sebenarnya
...”
“Iya, paman aku minta
maaf” aku langsung memotong omongan paman.
“Ya ampun, paman waktu itu
hanya bercanda. Itu supaya kau berhati-hati nak”.
“Ta .. Tapi .. “.
“Sudahlah nak, lupakan
kejadian hari ini. Sekarang pulanglah ! sudah sore. Mungkin kau butuh istirahat.
Paman tau kau tak pernah melakukan kesalahan sama sekali nak”. Kata paman
sabar.
“Baik paman”. Aku langsung
beranjak dari rumah paman. “Huft, aku mau tidur ..”
Minggu, 1 Mei 2011 pukul 09.01 WIB. Pagi ini amat sangat
cerah dan menyenangkan buatku. Karena ....
“Akhirnya sehari tanpa si
pengacau itu”. Kataku dengan lega.
Sesaat aku mulai tenang
dan damai. Tapi lama-kelamaan ... Sepi, sunyi, dan bersalah.. Di keseharianku
biasanya dia yang selalu menemani, menghibur, dan membuatku jengkel. Itulah
yang membuatku merindukannya. Seorang yang betah ada di dekatku, seorang yang
terbuka dan tegar (kurasa). Kini ia tak ada. Aku sangat merasa bersalah
kepadanya. Sekalinya aku bicara padanya, kata-kata terlaknat itu yang keluar
dari bibirku. Aku tak bisa tenang jika seperti ini.
“Baiklah, besok aku akan
minta maaf padanya. HARUS”.
Keesokan harinya aku ingat bahwa aku tak pernah bertanya
dimana rumahnya, bahkan namanya-pun sampai sekarang tak pernah ku tahu. Nama
saja tak tau, apalagi rumahnya dimana. Tak pernah ku hiraukan dia. Bahkan
bicara saja tak pernah. Sampai fajar menyingsing, pencarian belum barakhir.
Pencarian hari kedua
: aku bertanya kepada semua orang di dekat rumahku, tak ada yang tau.
Bertanya kepada orang-orang pasar (karena biasanya ia mengikutiku sampai
dipasar dekat rumah), tak ada yang tau. Dan pencarian dihari kedua ini masih
NIHIL.
“Aku tak tenang jika harus
seperti ini terus. Aku tak tenang jika melakukan kesalahan terhadap orang lain.
Aku tak tenang jika belum mengucap maaf padanya. Aku tak tenang jika ... “ aku
tak mampu lagi meneruskan kata-kata ini. Aku tak dapat menerima kenyataan bahwa
aku .. huft”.
Pencarian hari ketiga, masih
bertanya-tanya kepada warga sekitar tentang ‘seorang gadis berciri-ciri seperti
:
Tinggi :
kira-kira 150 cm.
Usia : kira-kira 16 tahun.
Rambutnya bergelombang dan
sebahu. Membawa boneka beruang lusuh. Dan sering memakai baju berwarna kuning
(itu kebiasaannya ketika denganku).
Tapi, tetap saja tak ada
yang tau dimana. Aku makin merasa bersalah. Dan di hari ini, hasilnya masih NOL
BESAR.
“Kemana sih kamu ?? aku
nggak bisa lagi nahan perasaan ini. Aku harus jujur dan ngomong langsung ke
kamu. Aku rasa perasaan ini udah lama aku rasa, tapi aku baru sadar dan
mengerti sekarang. Hal ini baru aku rasain sekarang. Kamulah yang pertama di
hidupku. Kamu yang ...”
Sudah 2 bulan aku mencari dan terus mencari. Aku ingin
meminta maaf sekaligus jujur kepadanya. Bahwa ini adalah rasa cinta si buruk
rupa terhadap sang putri. Aku udah yakin dan percaya sama perasaan ini. Tapi,
kamu dimana ??
Aku berjalan menyusuri
indahnya siang oleh kehampaan dan kesunyian, serta perasaan bersalah dan
belenggu yang mendalam. Seketika kulihat sesosok cahaya dalam khayalan dan
imajinasiku dan menunutun ke sebuah tempat yang indah. Tapi kurasa itu hanyalah
bayang-bayang fatamorgana semata. Tak dapat dirasakan, apalagi dijalani. Namun,
seketika imajinasiku sirna dan hilang segera. Ternyata khayalanku itu adalah
kenyataan. Bayang cahaya itu menuntunku ke sebuah rumah yang amat sangat indah
dan damai. Tak pernah kurasa bahkan kulihat. Rumah paman saja tidak se-nyaman
dan se-damai ini. Aku tepat berada di depan gerbang rumah idaman itu. Namun,
sepertinya rumah nan indah itu sedang dilanda kesedihan dan cobaan dari-Nya.
Aku melihat bendera kuning sedang di terpa angin sepoi-sepoi di depan gerbang
dan jalan-jalan sekitar rumah itu. Banyak pelayat datang kesana. Penasaran
melanda hati. Aku memberanikan diri untuk memasuki rumah itu, dan mengirimkan
sedikit do’a untuk yang telah tiada.
Aku melangkah melewati pintu rumah itu, ku pandangi semua
manusia yang sedang berkabung. Di sebelah jenazah seorang gadis muda itu ada
seorang wanita yang sedang meratapi jenazah gadis itu. Kurasa itu ibunya. Dan
yang sedang berdiri menyendiri dari kerumunan orang adalah ayahnya mungkin.
Tanpa mengucap salam aku masuk dan langsung duduk di sebelah jenazah itu.
Kulihat seseorang yang kurasa aku mengenalnya.
“Hah, paman ?? Sedang apa
dia disini ??. hatiku berkata. Paman .. paman .. “. Aku memanggil paman dengan suara
berbisik.
“Hah, King. Sedang apa kau
disini ??”. ia menjawab dengan nada sepertinya ia tak ingin aku mengetahui hal
ini.
“Aku tak tau kenapa aku
bisa sampai disini. Dan paman sedang apa disini ??”.
Tapi paman tak menjawab
pertanyaanku sepatah kata-pun. Hal itu membuatku penasaran. Tapi rasa penasaran
itu hilang dengan seketika. Yang ku inginkan hanya dia. Si pengacau hatiku.
Yang terakhir untukku. Seketika pula aku ingat dengan tujuanku, mendo’a-kan
orang yang tiada itu. Dan kubuka kain tipis yang menutupi wajah orang tiada
itu, lalu ...
Deg .. Deg .. Deg ..
Berakhir sudah pencarianku
selama ini. Jawabannya sudah ada di depan mata. Semua telah jelas. Terkuak
cerita indah tentang ia yang tak pernah ada. Aku yakin kalian semua sudah tau
apa yang akan terjadi. Ya, memang benar. Dia yang pertama di hati dan hidupku-lah
yang kini terbaring indah di balik kain tipis itu. Kini kami telah bertemu
kembali. Wajahnya yang anggun walau mengesalkan kini tenang dan damai. Takkan
terganggu oleh suara maha besar apapun. Dirinya kini sudah menemukan yang
terbaik. Berjalan di tengah-tengah cahaya kehidupan kekal nan bahagia. Kini aku
hanya dapat berkata satu kata terakhir padanya, itu adalah “MAAF”. Tak pernah
terbayangkan akhir ceritaku akan seperti ini. Hidup sepertinya tak pernah jera
mengambil semua yang kucintai dan ku sayangi. Pertama ayah dan ibuku, kedua
kebahagiaan, dan dia. Akankah ini jadi yang terakhir ? kepedihan terakhir dalam
kisah pilu-ku ini ? biarlah ..
Namanya adalah Denia, cantik dan indah, seperti sosoknya
yang dulu sangat menjengkelkan. Ayahnya menuturkan bahwa Denia selama ini
mengalami penyakit autis stadium awal, dan mengidap penyakit kanker otak. Kami
sering mengajaknya ke tempat alternatif ‘valiatif’. Disana mereka mengajarkan
akan makna kehidupan dan ketegaran untuk mencapai finish-nya yaitu kematian.
Semua pengidap kanker di beri penyuluhan akan kekuatan hati dan diri. Mereka
disana satu-persatu pergi. Tapi kepergian mereka meninggalkan memori yang
mendalam. Mereka juga di persiapkan untuk menghadapi kematian mereka, dan Denia
juga
... sampai disitulah aku mendengarkan penuturan orang tuanya. Aku tak sanggup
lagi. Aku sudah menerima semuanya, dan kenyataannya saat ini adalah Denia sudah
tak ada lagi untukku. Biarlah kisah ini ku jadikan pelajaran paling berharga
untuk hidpuku kelak. Dan yang paling penting, Denia tak akan pernah hilang dari
fikiran dan ingatanku, dan akan selalu tersimpan dalam lembaran hidupku. Selamanya..
hohohoho.. ngopas apa bikin tuh bunda kece?
BalasHapusfollow me okay!!