Seperti biasa di hari minggu, tidur
lebih malam, bangun-tidur-bangun-tidur, bangun lebiah siang dan tetap dengan 2
kasur yang kosong, lantai berdebu, kain lecek menumpuk, piring-piring kotor,
ember penuh kain tak bersih, kasur berantakan, atmosfer yang
sunyi-sepi-sendiri, lemari seperti gado-gado, tempat sampah hampir muntah,
sepatu olahraga berlapis cokelat, buku seperti pasar tumpah, serta serpihan
makanan menghiasi meja belajar.
Inilah PR yang sebenar-benarnya
PR. Setidaknya setengah dari mereka sudah dibereskan, tapi tetap saja akan
terulang diminggu berikutnya. Hufet.... beginilah konsekuensi dari sebuah pilihan
untuk merantau dan jauh dari orangtua. Seluruh pekerjaan para IRT sudah kami
(seluruh anak rantau) rasakan lebih dulu. Menjadi anak rantau itu multi
talenta, karena melatih beberapa aspek penting, yang diantaranya ; manajemen
keuangan, manajemen waktu, melatih kesabaran, kejujuran, keyakinan, mengatur
pola makan, dan self defense. Maka
dari itu, berbanggalah kalian yang menjadi anak rantau, karena kalian lebih
hebat dalam memanajemen diri.
nilah awal bulan, nafsu untuk
makan yang enak-enak mulai meningkat. Pembalasan dendam karena akhir bulan yang
begitu menyiksa (tinggal tunggu waktunya bakalan makan kerupuk sama nasi dan
kecap diakhir bulan).
STOP ! Katakan tidak pada
pemborosan ! (peringatan bagi anak rantau).
Sudah, bersyukurlah masih bisa
makan minimal 2x sehari. Inget uang yang di dapat itu darimana. Jerih payah
orangtua yang bersusah-susah mencarikan uang bulanan besar bagi kita, anaknya.
Padahal belum tentu uang itu mereka dapat dari tempat kerja mereka, mungkin
saja mereka belum menerima uang sepeserpun, dan demi kita-anaknya-mereka rela
untuk meminjam uang kepada orang lain. Karena tidak semua orang beruntung
memiliki orangtua yang memiliki pekerjaan layak namun tetap memperjuangkan
pendidikan anaknya. Ataukah uang yang kita terima itu adalah yang didapat oleh
orangtua kita tanpa mereka mengambil sisa yang banyak dari upah itu hanya demi
kita.
Ingatlah jerih payah mereka
sebelum kita berfoya-foya dan membazirkan apa yang mereka amanahkan kepada
kita.
Iya pas awal bulan banyak yang belanja sana sini, makan makan enak. Giliran akhir bulan pada sibuk cari pinjeman.
BalasHapusHuft, padahal makan mah ama apa aja ya, yang penting kenyang dan sehat. Hidup nasi padang porsi goceng.
Oia kalo jaman aku ngekost di ledeng dulu. Di terminal ledengnya ada nasi padang porsi kuli. Harganya start from goceng. Tergantung lauk yang dipilih. Tapi bisa makan berdua atau bertiga (padahal porsi setengah). Ga tau masih ada apa ngga sekarang. Kalo akhir bulan rame banget tempat itu
Iya, seharusnya fikirin juga bagaimana sulitnya mencari uang. Walaupun sudah mapan, tapi proses menuju kearah sana yang harusnya dilihat dan dihargai, bukannya malah digunakan seenaknya :D
BalasHapusWah, bisa jadi salah satu alternatif tuh kalau lagi 'kanker', ka, hehe. maklum anak kosan. Tapi lumayan jauh juga sih dari asrama. Mungkin lain kali bisa coba main-main kesana :)